Proxmox Virtual Environment: Evolusi, Fitur, dan Alasan Popularitasnya
- mohnovil22134
- May 15, 2025
- 4 min read
Updated: Aug 27, 2025

Pendiri dan Awal Mula Proxmox
Proxmox VE (Virtual Environment) dikembangkan oleh Proxmox Server Solutions GmbH, sebuah perusahaan asal Austria. Perusahaan ini didirikan oleh Dietmar Maurer dan Martin Maurer pada tahun 2005. Awalnya, mereka melihat bahwa solusi virtualisasi yang tersedia saat itu masih mahal, kompleks, atau tidak fleksibel bagi kalangan menengah dan komunitas open source. Berangkat dari kebutuhan akan platform virtualisasi yang powerful namun tetap terbuka dan efisien, lahirlah Proxmox VE.
Perjalanan dan Evolusi Proxmox dari Versi 1 hingga Versi 8
Proxmox VE 1.0 (2008): Versi awal ini sudah mendukung virtualisasi berbasis KVM dan container berbasis OpenVZ, menawarkan manajemen melalui web GUI.
Proxmox VE 2.x (2012): Mengganti sistem konfigurasi ke berbasis cluster dan file di dalam /etc/pve. Ditambahkan fitur role-based permission dan backup terintegrasi.
Proxmox VE 3.x (2013): Peningkatan pada manajemen cluster, penyempurnaan GUI dan dukungan IPv6.
Proxmox VE 4.x (2015): Transisi besar dari OpenVZ ke LXC (Linux Containers), peningkatan sistem backup dan dukungan untuk Ceph Storage.
Proxmox VE 5.x (2017): Mengadopsi Debian Stretch, peningkatan manajemen penyimpanan, dan peningkatan keamanan (2FA).
Proxmox VE 6.x (2019): Berdasarkan Debian Buster, integrasi ZFS lebih dalam, penyempurnaan HA (High Availability).
Proxmox VE 7.x (2021): Berdasarkan Debian Bullseye, peningkatan sistem backup, integrasi Kernel 5.11+ dan UI baru yang lebih modern.
Proxmox VE 8.x (2023–2024): Berdasarkan Debian Bookworm. Menyempurnakan integrasi Ceph Quincy dan ZFS, peningkatan performa dan keamanan, serta pengelolaan node lebih efisien.
Mengapa Banyak Perusahaan Migrasi ke Proxmox?
Momen krusial terjadi ketika Broadcom mengakuisisi VMware pada akhir 2023. Setelah akuisisi tersebut, lisensi VMware mengalami kenaikan harga yang signifikan, serta banyak model lisensi berubah menjadi subscription-only. Ini menyebabkan keresahan di kalangan pengguna, terutama perusahaan kecil hingga menengah yang terbiasa dengan sistem perpetual license.
Proxmox muncul sebagai alternatif menarik karena bersifat open source, tidak ada lisensi per CPU atau VM, dan bisa dijalankan secara penuh tanpa biaya, sambil tetap menyediakan dukungan komersial bagi yang membutuhkan.
Keunggulan Proxmox Virtual Environment (VE)
Gratis dan Open Source Proxmox VE merupakan platform virtualisasi berbasis open source yang dapat digunakan sepenuhnya secara gratis. Semua fitur utama—seperti virtualisasi KVM, container LXC, clustering, backup, hingga high availability—tersedia tanpa biaya lisensi.Namun, bagi pengguna yang menginginkan kestabilan dan dukungan level enterprise, Proxmox menyediakan sistem subscription berbayar melalui Enterprise Repository. Perbedaannya:
No-Subscription Repository (gratis): Mendapatkan update fitur dan keamanan, namun tidak melalui proses uji ketat. Potensial terjadi bug atau ketidakstabilan.
Enterprise Repository (berbayar): Akses ke update yang sudah diuji secara menyeluruh dan dukungan teknis langsung dari tim Proxmox.
Dengan begitu, pengguna dapat memilih antara fleksibilitas open source atau kestabilan enterprise sesuai kebutuhan mereka.
Dibangun di Atas Debian Linux Proxmox menggunakan Debian GNU/Linux sebagai fondasi utamanya. Debian dikenal sebagai distribusi yang stabil, aman, dan memiliki siklus pengembangan yang konservatif. Keunggulannya:
Dukungan komunitas besar
Kompatibilitas luas dengan perangkat lunak Linux lainnya
Sistem package management APT yang efisien
Kemudahan dalam scripting dan automasi menggunakan bash, Python, atau Ansible
Dukungan Migrasi dari VMware dan Platform Lain Proxmox sangat populer sebagai pengganti VMware ESXi karena mendukung proses migrasi VM dengan cukup lancar. Proses migrasi umumnya melibatkan:
Mengubah format disk dari .vmdk (VMware) ke .qcow2 atau .raw (KVM) menggunakan tool qemu-img
Mengimpor disk image ke VM Proxmox melalui CLI (qm importdisk) atau GUI
Penyesuaian setting VM seperti driver jaringan (virtio) dan boot loader (UEFI/BIOS)
Verifikasi kompatibilitas kernel, modul, dan tools dalam guest OS
Untuk migrasi otomatis berskala besar, tersedia pula tool pihak ketiga seperti virt-v2v dan PVE-Importer Script.
Built-in ClusteringP roxmox memiliki sistem clustering bawaan tanpa perlu software tambahan. Beberapa node dapat digabung menjadi satu cluster hanya dengan beberapa perintah. Cluster ini dikelola menggunakan Proxmox Cluster File System (pmxcfs), sebuah sistem file berbasis RAM dan sync antar node menggunakan corosync.Keunggulan fitur ini:
Single-pane-of-glass: Satu dashboard untuk semua node
Replikasi konfigurasi otomatis
Kompatibel dengan fitur HA dan live migration
Built-in Backup ToolProxmox menyediakan sistem backup internal untuk VM dan container yang efisien, tanpa perlu software eksternal. Fitur utamanya:
Backup online (tanpa perlu mematikan VM/container)
Mendukung snapshot berbasis LVM/ZFS
Format backup: .vma.zst → file yang dikompresi dengan Zstandard (cepat dan hemat ruang)
Penjadwalan backup otomatis dan rotasi file backup
Kompatibel dengan Proxmox Backup Server untuk remote incremental backup
Live Migration & High Availability (HA)
Live Migration: Adalah kemampuan untuk memindahkan VM dari satu node ke node lain tanpa perlu shutdown. Prosesnya:
RAM state VM ditransfer secara bertahap ke node tujuan
Setelah sinkron, proses dijeda sebentar dan dijalankan di node baru
Cocok untuk pemeliharaan server tanpa downtime
High Availability (HA): Adalah sistem yang memastikan VM/container tetap online meski node host gagal. Implementasi teknisnya menggunakan:
watchdog (hardware/software monitoring)
quorum voting untuk memastikan status cluster
automatic failover VM ke node sehat secara otomatis Fitur ini sangat penting dalam lingkungan produksi dan critical system.
Dukungan Penuh KVM dan LXC
KVM (Kernel-based Virtual Machine) : Merupakan hypervisor berbasis kernel Linux untuk virtualisasi penuh. Digunakan untuk menjalankan OS berbasis Windows, Linux, dan lainnya secara isolatif seperti mesin fisik.Keunggulan: dukungan hardware virtualization, snapshot, dan pengaturan granular resource (CPU/RAM/Disk).
LXC (Linux Containers) : Merupakan teknologi container ringan berbasis OS. Cocok untuk menjalankan banyak instance Linux dengan overhead minimal.Keunggulan: cepat, ringan, konsumsi sumber daya rendah, dan cocok untuk aplikasi seperti server web, database, dsb.
Di Proxmox, keduanya dapat dijalankan bersamaan di satu GUI, dengan fitur manajemen terintegrasi.
Subscription per Socket (CPU) Sistem langganan Proxmox bersifat sederhana dan transparan: dihitung berdasarkan jumlah socket CPU fisik di host, bukan jumlah VM, core, atau memory. Keunggulannya dibanding kompetitor (seperti VMware):
Lebih terjangkau untuk skala kecil dan menengah
Tidak ada pembatasan jumlah VM/container
Skema flat-rate memudahkan perencanaan anggaran
Misalnya, satu server dual-socket hanya perlu dua lisensi subscription, terlepas dari apakah server tersebut menjalankan 10 atau 100 VM.



Comments