top of page

Memahami Monitoring Kubernetes Workload dengan VPS: Solusi Cerdas untuk Pengelolaan Container

  • Writer: mohnovil22134
    mohnovil22134
  • Apr 18, 2025
  • 4 min read

Updated: Aug 27, 2025

Saat menjalankan aplikasi berbasis container, seringkali kita dihadapkan dengan tantangan bagaimana cara memonitoring kinerja dan performa container tersebut. Salah satu solusi untuk ini adalah dengan menggunakan tools open source yang ada, seperti Prometheus dan Grafana, yang sangat populer dalam ekosistem Kubernetes. Mari kita ulas lebih lanjut mengenai konsep-konsep penting yang perlu dipahami.


Apa itu Containerisasi?

Containerisasi adalah teknik di mana aplikasi dan semua dependensinya dikemas ke dalam satu paket yang disebut "container". Konsep ini memungkinkan aplikasi untuk dijalankan secara konsisten di berbagai environment tanpa tergantung pada konfigurasi sistem di masing-masing environment. Ini adalah solusi yang sangat berbeda dari pendekatan tradisional yang mengandalkan deployment langsung di server fisik atau virtual machine.


Berbeda dengan virtualisasi, yang memerlukan satu sistem operasi untuk setiap aplikasi yang berjalan di dalam virtual machine (VM), container berbagi sistem operasi host, menjadikannya lebih ringan dan efisien.


Keunggulan Containerisasi

Beberapa keunggulan utama dari containerisasi adalah:

  1. Portabilitas: Container dapat dijalankan di berbagai sistem dengan cara yang sama tanpa khawatir tentang perbedaan lingkungan.

  2. Ringan: Dibandingkan dengan VM, container lebih hemat sumber daya karena berbagi OS yang sama, sementara VM membutuhkan sumber daya lebih besar untuk masing-masing OS.

  3. Terisolasi: Setiap container berjalan dalam lingkungan yang terisolasi, sehingga masalah pada satu container tidak mempengaruhi container lainnya.

  4. Skalabilitas: Dengan menggunakan fitur autoscaling, container bisa dengan mudah diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan.


Masalah yang Muncul Tanpa Container

Tanpa menggunakan container, banyak perusahaan yang menghadapi masalah yang dapat mempengaruhi efisiensi operasional mereka. Berikut beberapa masalah yang sering ditemui:


  1. Ketidak konsistenan environment: Aplikasi yang dijalankan di berbagai lingkungan dapat berfungsi berbeda jika tidak ada kontrol konsistensi.

  2. Performa Lambat: Aplikasi yang dijalankan di VM atau langsung di server fisik bisa lebih lambat karena pembagian sumber daya yang tidak efisien.

  3. Kesulitan dalam Skalabilitas: Menambah kapasitas atau mengatur aplikasi yang lebih besar memerlukan usaha dan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan container yang lebih fleksibel.


Apa Itu Container Runtime?

Untuk menjalankan dan mengelola container, kita membutuhkan sebuah software yang disebut container runtime. Salah satu container runtime yang paling populer adalah Docker. Docker memungkinkan kita untuk membuat, mengelola, dan menjalankan container dengan mudah.



Cara Kerja Docker

Docker terdiri dari beberapa komponen utama:

  • Docker Client: Alat yang digunakan untuk memberikan perintah seperti build, push, run, dan pull.

  • Docker Host: Sistem yang menjalankan perintah yang diberikan oleh Docker Client.

  • Docker Registry: Tempat penyimpanan image container. Salah satu yang paling terkenal adalah Docker Hub.


Docker juga mengelola jaringan antar container. Setiap container memiliki interface jaringan sendiri yang dihubungkan dengan sebuah bridge, yang memungkinkan container berkomunikasi satu sama lain dan mengakses internet melalui SNAT.




Mengapa Kubernetes untuk Orkestrasi Container?

Kubernetes adalah platform yang digunakan untuk mengelola container di dalam cluster. Platform ini memungkinkan pengelolaan container secara otomatis, termasuk

penjadwalan, deployment, scaling, dan pemeliharaan aplikasi dalam skala besar.


Keuntungan Menggunakan Kubernetes

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Kubernetes sangat penting dalam orkestrasi container:


  1. Automatisasi Manajemen Container: Kubernetes mengelola seluruh siklus hidup aplikasi, mulai dari deployment hingga pemeliharaan.

  2. Skalabilitas: Kubernetes memungkinkan untuk menambah atau mengurangi jumlah container dengan mudah sesuai kebutuhan.

  3. High Availability dan Self Healing: Kubernetes memastikan bahwa aplikasi tetap tersedia dan akan secara otomatis memperbaiki masalah jika ada container yang gagal.

  4. Multi-Cloud dan Cloud Native: Kubernetes dirancang untuk bekerja dengan berbagai penyedia cloud dan dapat berjalan di banyak cloud secara bersamaan.

Arsitektur Kubernetes

Kubernetes terdiri dari dua komponen utama:

  1. Control Plane: Berfungsi untuk mengelola dan mengontrol cluster secara keseluruhan.

  2. Node (Worker): Menjalankan aplikasi dalam container.


Komponen-komponen Control Plane

  1. Kube-apiserver: Menjadi pintu masuk API untuk komunikasi antara komponen di dalam cluster.

  2. Etcd: Menyimpan data konfigurasi dan status cluster.

  3. Kube-scheduler: Menjadwalkan tugas dan menentukan di node mana container akan dijalankan.

  4. Kube-controller-manager: Memantau dan mengelola status cluster untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.

  5. Cloud-controller-manager: Menghubungkan Kubernetes dengan penyedia layanan cloud.


Komponen-komponen Worker Node

  1. Kubelet: Memastikan bahwa container berjalan dengan baik di node.

  2. Kube-proxy: Mengelola jaringan dan komunikasi antar pod.

  3. Container Runtime: Seperti Docker, ini bertanggung jawab untuk menjalankan container.


Monitoring Kubernetes dengan VPS

Untuk memastikan bahwa Kubernetes bekerja dengan baik dan aplikasi berjalan lancar, kita memerlukan sistem monitoring yang handal. Monitoring adalah proses memantau dan menganalisis kesehatan dan performa dari sistem yang berjalan.

Hal-hal yang Umum Dimonitoring:
  • CPU: Penggunaan prosesor oleh aplikasi.

  • Memori: Penggunaan RAM oleh container.

  • Disk: Kapasitas dan penggunaan penyimpanan.

  • Jaringan: Trafik dan konektivitas antar container.

  • Proses dan Service: Kesehatan proses dan layanan yang berjalan di dalam container.



Prometheus dan Grafana: Alat Monitoring Open Source

Untuk melakukan monitoring yang efektif di Kubernetes, kita dapat menggunakan Prometheus dan Grafana. Kedua alat ini sangat populer di kalangan developer dan admin sistem untuk mendapatkan insight yang real-time tentang performa dan kesehatan aplikasi.


Prometheus

Prometheus adalah alat monitoring yang dirancang untuk mengumpulkan dan menyimpan data dalam bentuk time-series. Prometheus awalnya dikembangkan oleh SoundCloud, dan sekarang menjadi open-source yang digunakan oleh banyak organisasi besar. Kelebihan Prometheus antara lain:

  • Monitoring Real-Time: Memantau aplikasi secara langsung.

  • Alerting: Memberikan notifikasi jika terjadi masalah pada aplikasi.

  • Skalabilitas: Dapat diatur untuk menyesuaikan infrastruktur yang besar.


Grafana

Grafana digunakan untuk visualisasi data yang dikumpulkan oleh Prometheus. Dengan Grafana, kita dapat membuat dashboard yang interaktif dan mudah dibaca, memberikan informasi secara visual mengenai performa aplikasi kita secara real-time. Grafana juga dapat terhubung dengan berbagai sumber data lainnya.

Comments


AKU NOVIL

Blog ini adalah hasil dari perjalanan belajar dan eksplorasi, semoga bisa menjadi sumber informasi yang bermanfaat dan inspiratif bagi semua pembaca.

  • LinkedIn
  • Instagram
  • TikTok
  • Youtube
bottom of page